Gerakan Sekolah Menyenangkan: Pendidikan Bukan Kompetisi Menang-Kalah

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dan Dinas Pendidikan Kabupaten Wonosobo bersinergi menambahkan pelatihan pendidikan berfokus terhadap pergantian pola pikir dan kesadaran diri kepada guru dan kepala sekolah se-kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Founder GSM, Muhammad Nur Rizal lewat rilis resmi (3/1/2024) menjelaskan, lokakarya di Wonosobo ini merupakan dampak dari acara Badan Belajar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Tengah.

Di acara tersebut, lebih dari enam ribu guru penggerak yang akan di wisuda mendengarkan narasi Rizal tentang pendidikan yang memanusiakan manusia.

Narasi ini menginspirasi terselenggaranya workshop tidak hanya di Wonosobo, namun terhitung di seluruh tempat Jawa Tengah, Tangerang, Tangerang Selatan, dan apalagi hingga ke Kalimantan layaknya tempat Bontang, Katingan, dan Palangkaraya.

“Pendidikan merupakan sebuah rancangan yang akrab di telinga kita, ternyata menyimpan kekosongan yang memanggil untuk diisi bersama pengalaman, cinta kasih, dan dialog untuk membangun peradaban di Indonesia,” ungkap Rizal.

Hal menarik lain dari perluasan pergantian ini adalah terlibatnya para Kepala Dinas Pendidikan secara segera didalam mengawal pergantian ini.

Seperti Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang yang turut bergerak untuk melibatkan pergantian seluruh SMP di wilayahnya untuk sering bermain di https://www.ptmerantimustika.com/, Sekda Katingan dan Bontang yang turut mengawal kegiatan GSM di daerahnya.

“Komunitas GSM di Klaten terhitung memiliki rencana bergerak terhadap tahun 2024, dan apalagi lebih dari satu yang baru terlibat di komunitas GSM ada secara segera melaksanakan kunjungan ke Kantor GSM di Yogyakarta didalam rangka diskusi rancangan pergantian pendidikan di daerahnya masing-masing,” ungkap Rizal.

Workshop di Wonosobo berlangsung selama empat hari terasa dari Senin, 18 Desember 2023, hingga Kamis, 21 Desember 2023 di Yogyakarta.

Acara ini diikuti lebih dari 200 guru dan kepala sekolah se-kabupaten Wonosobo. Sesi-sesi berikut dipimpin oleh Muhammad Nur Rizal sebagai founder GSM dan Novi Poespita Candra selaku co-founder GSM.

Pendidikan bukan kompetisi menang-kalah

Dalam paparan Rizal menjelaskan, rancangan permainan finite dan infinite yang mampu dikaitkan bersama sistem pendidikan di Indonesia. Permainan finite miliki akhir yang terbatas, peraturan dan obyek permainan untuk memenangkan suatu hal dan pemainnya terhitung jelas.

Sedangkan permainan infinite tidak miliki peraturan baku, pemainnya singgah silih berganti, yang dilawan pun terhitung tidak tahu siapa dan miliki perspektif jangka panjang.

“Sejatinya, dunia pendidikan adalah permainan infinite. Pendidikan udah berlangsung selama berabad-abad, bersama guru dan siswa yang silih berganti,” ungkap Rizal.

“Namun, selagi ini mindset yang kami miliki tetap terpaku terhadap permainan finite. Sehingga kami terobsesi untuk jadi yang terbaik didalam berbagai perihal di dunia pendidikan layaknya kompetisi nilai, mengejar karir, supaya terlilit didalam suasana formalisme dan urusan administratif,” jelasnya.

“Medan pendidikan yang infinite diperlakukan bersama  berakibat pemain bermain untuk menang, padahal tidak tersedia peraturan kemenangan yang tentu didalam permainan. Itulah yang berlangsung terhadap guru di Indonesia selagi ini,” jadi Rizal.

Ia menyampaikan, pendidikan adalah perjalanan membangun peradaban yang membutuhkan selagi dan perjalanan panjang.

“Mengejar kompetisi didalam pendidikan justru akan melahirkan rasa frustasi dan kehilangan sumber kekuatan untuk bertahan. Karena tidak tersedia kemenangan dan kekalahan didalam dunia pendidikan,” tegas Rizal.

Rizal terhitung menambahkan langkah-langkah konkret kepada audiens supaya jadi pemain infinite didalam konteks pendidikan.

“Pertama, mutlak untuk membangun obyek mulia yang visi dan semangatnya lebih besar dari diri sendiri, supaya mampu menggerakkan orang lain didalam mendukung obyek tersebut,” tahu Rizal.

“Kedua, temukan gagasan yang mampu mendorong perbaikan daripada kompetisi. Ketiga, membangun komunitas atau tim yang saling percaya akan menciptakan ekosistem supaya anggotanya berkembang secara alami dan jadi versi terbaik bagi mereka,” pungkasnya.

Workshop GSM ini diadakan bersama para guru dan kepala sekolah dari lintas jenjang dasar dan menengah dari kabupaten Wonosobo.

Acara ini terlihat dari kesadaran Kepala Dinas Pendidikan Wonosobo yang penuh motivasi untuk mengajak seluruh guru serta kepala sekolah di lingkungannya untuk bertransformasi dan membentuk komunitas GSM di Wonosobo.

“Saya senang bersama apa yang disampaikan Pak Rizal. Banyak rekan guru yang antusias untuk turut GSM. Karena urutan dan materi workshopnya membangunkan kesadaran diri mereka untuk jadi pendidik sejati,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Wonosobo, Tono Prihatono.

“Di sini jiwa atau ruh pendidikan terasa selama workshop berlangsung. Kami sebagai dinas siap mendukung terbentuknya GSM di Wonosobo,” tambahnya.

Salah satu guru yang ikuti pelatihan ini tunjukkan harapannya, “saya singgah ke sini bersama mempunyai harapan baru. Saya dambakan menambahkan yang terbaik bagi anak didik dan rekan guru saya. Harapan itulah yang mempunyai saya ikuti kegiatan ini.”

“Dan ternyata, acara ini mengasyikkan dan penuh tantangan di mana kami di pantik untuk jadi sang kurikulum itu sendiri,” ucapnya.

“Kami terharu akan ajakan pak Rizal untuk jadi Guru Sang Rosul Peradaban”, papar salah satu peserta senior di workshop itu.

Artikel yang Direkomendasikan

error: Content is protected !!