Jalan Sunyi Pendidikan Kecil-si kecil Baduy

Larangan adat mengenyam pengajaran formal bukan berarti membikin masyarakat suku Baduy tak belajar. Mereka terdidik secara lisan dan keteladanan. Tanpa menimba ilmu, si kecil-si kecil Baduy meniti jalan sunyi belajar dari alam dan filosofi hidup yang diwariskan para leluhur.

Tubuh mungil Mila (8) karam di antara hamparan padi huma di wilayah Baduy Luar, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (16/3/2023) siang. Dia berlari sambil meniup terompet yang dibuatnya sendiri dari jerami.

Tak ada raut kelelahan di wajahnya padahal baru saja menyusuri jalan menanjak dan berbatu lebih dari 2 kilometer. Bagi si kecil-si kecil Baduy, ladang yakni tempat bermain sekaligus belajar.

Mila cuma butuh waktu kurang dari dua menit untuk membikin mainan itu. Dengan mengaplikasikan parang, dia memotong jerami sepanjang 5 sentimeter, kemudian membikin lubang kecil di bagian pangkal batang untuk mewujudkan suara dikala ditiup.

”Dari umur enam tahun telah dapat buat empet-empetan artofhairpburg.com (terompet dari batang jerami) sendiri sebab tak jarang ke ladang,” ujarnya.

Mila tak menimba ilmu. Sehari-hari dia dan si kecil-si kecil lainnya berbahasa Sunda logat Baduy. Namun, si kecil pertama dari dua bersaudara tersebut lancar berbahasa Indonesia dikala berkomunikasi dengan pengunjung atau pelancong.

Selain itu, masyarakat di Baduy Luar dibiarkan mengaplikasikan gawai. Gawai menjadi salah satu sarana mereka untuk belajar bahasa dan membaca.

Akan tapi, pemakaian gawai amat terbatas. Sebab, sumber aliran listrik PLN masih dilarang. Jadi, daya baterai gawai baru dapat diisi dikala berada di luar Desa Kanekes.

Siang itu, Mila mendatangi ladang tetangganya yang sedang dipanen. Ladang itu milik Samin (23) dan keluarganya. Samin bersama lima anggota keluarganya memanen mengaplikasikan etem atau ani-ani. Alat ini yakni pisau kecil yang diaplikasikan dengan metode memotong satu per satu tangkai bulir padi.

Samin menceritakan, si kecil-si kecil Baduy telah diajak ke ladang semenjak berumur lima tahun. Bukan untuk menolong pekerjaan ayah dan ibunya, tapi membiasakan diri berada di ladang dan mengamati kegiatan di sana.

Semua kegiatan di ladang, seperti menanam dan panen, dikerjakan bersama-sama, bagus dibantu anggota keluarga ataupun tetangga. Jadi, mereka (si kecil-si kecil) dapat belajar perihal gotong royong di ladang,” ucapnya.

Masyarakat Baduy bertani di ladang kering. Padi ditanam di perbukitan tanpa pupuk kimia. Padi dipanen sesudah berumur enam bulan.

Sesudah dipanen, padi dijemur selama 1-2 minggu di ladang. Padahal tanpa dijaga, tak ada kekhawatiran hasil panen padi akan dicuri. Ini yakni pelajaran penting bagi si kecil-si kecil Baduy untuk tak mengambil yang bukan haknya.

Kecil-si kecil Baduy juga dapat belajar metode mengelola alam di ladang. Sebab, sesudah dipanen, ladang tak boleh seketika ditanam padi. Lazimnya warga menanam palawija, buah, dan pohon kayu.

”Sekitar 5-7 tahun baru dapat menanam padi di lahan yang sama. Jadi, tanahnya punya kesempatan untuk pulih dan subur kembali,” ucapnya.

Keterampilan lain yang dimiliki si kecil-si kecil Baduy yakni membikin kerajinan kultur, seperti menenun dan membikin tas koja atau jarog berbahan kulit kayu. Ana (12), warga Kampung Balimbing, Baduy Luar, semisal, telah dapat menenun semenjak umur 7 tahun.

Artikel yang Direkomendasikan

error: Content is protected !!